Hewan Kurban Harus Dilengkapi Surat Kesehatan

Hewan Kurban Harus Dilengkapi Surat Kesehatan
Pedagang hewan kurban menggelar dasaran di lapangan Gayamsari, di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah

Semarang – Hewan Kurban yang dijual di Kota Semarang, harus dilengkapi dengan surat kesehatan dari daerah asal.

Tanpa dokumen tersebut, hewan-hewan tersebut tidak boleh dijual di wilayah ini. Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Wahyu Permata Rusdiana, baru-baru ini. “Pedagang yang hendak menjual hewan kurban, juga harus meminta izin ke Kecamatan,” tuturnya Kemarin.

Sekain itu, tempat dasaran yang dibuat, juga harus memenuhi beberapa syarat. Diantaranya harus jauh dari pemukiman, tidak berada di dekat jalan raya, tidak mengganggu estetika pemandangan, dan lokasi sekitar harus bersih.

Pemerintah di Kecamatan diminta untuk mencarikan tempat yang tepat di wilayah masing-masing.

Lebih lanjut Wahyu mengatakan pihaknya akan menerjunkan 50 – 60 petugas di 16 Kecamatan di Kota Semarang. Tugas mereka adalah mengecek lokasi pedagang dan memeriksa hewan kurban yang dijual. Para petugas itu, akan turun ke lapangan sepekan sebelum Idul Adha.

Sepanjang 2017, ada sejumlah hewan kurban yang tidak lolos uji kelayakan. Beberapa diantaranya karena proses jual beli dilakukan di luar kota. Misalnya seperti hewan kurban yang dihibahkan ke masjid-masjid di Kota Semarang.

“Hewan-hewan ini lolos dari pemeriksaan karena seringkali langsung diserahkan kepada lokasi yang dituju. Sementara petugas kurban di masjid tidak mengetahui tentang syarat kelayakan hewan kurban.  Untuk mengantisipasi kasus seperti ini terulang, kami beberapa kali telah menggelar pelatihan kepada petugas kurban,” paparnya.

Sementara itu, sejumlah pedagang hewan kurban mulai berjualan di sepanjang jalan. Pedagang kambing asal Boyolali, Agus, misalnya, dia telah berjualan di lapangan Gayamsari atau area kompleks relokasi Pasar Johar sejak 10 Agustus. Saat ini kondisi penjualan masih sepi. Kebanyakan pengunjung yang datang masih survei harga.

“Saat ini baru ada dua pedagang saja. Biasanya pedagang lainnya datang beberapa hari menjelang lebaran. Pembeli seringkali berasal dari wilayah sekitar Semarang. Namun sekarang pembeli belum ada yang datang,” kata dia.

Menurut Agus, dia mampu menjual 70 ekor kambing pada perayaan Idul Adha tahun lalu. Agus mengatakan, dia hanya menjual kambing jawa dan bligon atau peranakan kambing kacang dengan ettawah. Harga kambing di tahun ini diperkirakan mengalami kenaikan sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Hanya saja, dia mengaku untung dagangan tidak bisa dipastikan setiap tahunnya.

Untuk kambing dengan berat 15-17 kilogram dijual dengan harga Rp 2 juta per ekor. Sementara berat 17-25 kilogram dijual antara harga 2,5 juta hingga Rp 3 juta per ekor. Harga tersebut telah termasuk ongkos kirim ke lokasi yang hendak dituju. (K14, ary-42)

Sumber : media cetak (Koran) Semarang Metro, Selasa 14 Agustus 2018